Malware adalah istilah kolektif yang digunakan untuk mewakili virus, worm, spyware dan program berbahaya lain di luar sana di Internet. Dengan kata sederhana, setiap program perangkat lunak yang dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan langsung atau tidak langsung ke sistem komputer disebut sebagai malware.
Blog yang menampilkan berisi konten Informasi, Artikel, Tips dan Triks, Berita, Seputar Hacking, dan Teknologi
Showing posts sorted by relevance for query komputer. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query komputer. Sort by date Show all posts
Mar 19, 2013
Mar 18, 2009
cracker dan hacker II
Hacker, Riwayatmu Kini…..”
oleh: Donny B.U., M.Si. *
=========
Pengantar
=========
Pernah suatu ketika pada tanggal 10 Agustus 2001 sebuah media massa online memberitakan mengenai hacker yang membobol dan men-deface (mengubah content maupun layout) beberapa situs di Internet dan memasang foto Tommy Soeharto di situs tersebut. Menurut media massa tersebut, aksi hacker tersebut adalah merupakan bantuan untuk menyebarluaskan dan menangkap Tommy Soeharto. Pada halaman yang di-deface tersebut, tertulis juga pesan “Hacked and deface not only a crime. This person is #1 criminal in our country”.
Kemudian belum lama berselang, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2001, beberapa perusahaan dotcom menyelenggarakan sebuah acara bertajuk HackersNight, di sebuah café di bilangan Jakarta Selatan. Acara HackersNight tersebut merupakan acara bulanan yang sudah mencapai putaran ke 12 di Jakarta. Acara party-party ala pebisnis dotcom tersebut juga dilangsungkan di Bandung dan Surabaya, dan sudah tentu dilaksanakan di sebuah café pula. Acara yang dilangsungkan hingga larut malam tersebut banyak menyajikan aneka hiburan, musik yang keras dan setumpuk hadiah dari para sponsor.
Bagi orang awam, kedua informasi tersebut tidaklah menunjukkan kejanggalan apapun. Toh memang akhirnya terminologi hacker bagi orang awam tidak mempunyai banyak arti dan tidak berpengaruh banyak dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi bagi pelaku dan pemain industri teknologi informasi (TI), atau setidaknya bagi pemerhati dan pecinta TI, penggunaan kata hacker untuk dua contoh kasus tersebut di atas bisa menjadi suatu diskusi yang panjang. Ada pertanyaan yang paling mendasar: “Sudah tepatkah penggunaan kata hacker tersebut?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terminologi hacker tersebut lebih jauh.
==================================
Sejarah Singkat Terminologi Hacker
==================================
Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama.
Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos.
1 dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan. Pada tahun yang sama keluar pula sebuah film berjudul War Games yang salah satu perannya dimainkan oleh Matthew Broderick sebagai David Lightman. Film tersebut menceritakan seorang remaja penggemar komputer yang secara tidak sengaja terkoneksi dengan super komputer rahasia yang mengkontrol persenjataan nuklir AS.
Kemudian pada tahun 1995 keluarlah film berjudul Hackers, yang menceritakan pertarungan antara anak muda jago komputer bawah tanah dengan sebuah perusahaan high-tech dalam menerobos sebuah sistem komputer. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana akhirnya anak-anak muda tersebut mampu menembus dan melumpuhkan keamanan sistem komputer perusahaan tersebut. Salah satu pemainnya adalah Angelina Jolie berperan sebagai Kate Libby alias Acid Burn.
Pada tahun yang sama keluar pula film berjudul The Net yang dimainkan oleh Sandra Bullock sebagai Angela Bennet. Film tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan seorang pakar komputer wanita yang identitas dan informasi jati dirinya di dunia nyata telah diubah oleh seseorang. Dengan keluarnya dua film tersebut, maka eksistensi terminologi hacker semakin jauh dari yang pertama kali muncul di tahun 1960-an di MIT.
==============================
Manifesto dan Kode Etik Hacker
==============================
Sebenarnya hacker memiliki manifesto dan kode etik yang menjadi patokan bagi hacker di seluruh dunia. Manifesto Hacker dibuat oleh seorang hacker yang menggunakan nickname The Mentor dan pertama kali dimuat pada majalah Phrack (volume 1 / issue 7 / 25 September 1986).
Manifesto Hacker tersebut adalah:
- Ini adalah dunia kami sekarang, dunianya elektron dan switch, keindahan sebuah baud.
- Kami mendayagunakan sebuah sistem yang telah ada tanpa membayar, yang bisa jadi biaya tersebut sangatlah murah jika tidak dijalankan dengan nafsu tamak mencari keuntungan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami menjelajah, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami mengejar pengetahuan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami hadir tanpa perbedaan warna kulit, kebangsaan, ataupun prasangka keagamaan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kalian membuat bom atom, kalian menggelar peperangan, kalian membunuh, berlaku curang, membohongi kami dan mencoba meyakinkan kami bahwa semua itu demi kebaikan kami, tetap saja kami yang disebut kriminal.
- Ya, aku memang seorang kriminal.
- Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku.
- Kejahatanku adalah karena menilai orang lain dari apa yang mereka katakan dan pikirkan, bukan pada penampilan mereka.
- Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tak kan kalian maafkan.
- Aku memang seorang hacker, dan inilah manifesto saya.
- Kalian bisa saja menghentikanku, tetapi kalian tak mungkin menghentikan kami semua.
- Bagaimanapun juga, kami semua senasib seperjuangan.
Hacker juga memiliki kode etik yang pada mulanya diformulasikan dalam buku karya Steven Levy berjudul Hackers: Heroes of The Computer Revolution, pada tahun 1984.
Kode etik hacker tersebut tertulis:
1. Akses ke sebuah sistem komputer, dan apapun saja dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali
2. Segala informasi haruslah gratis
3. Jangan percaya pada otoritas, promosikanlah desentralisasi
4. Hacker haruslah dinilai dari sudut pandang aktifitas hackingnya, bukan berdasarkan standar organisasi formal atau kriteria yang tidak relevan seperti derajat, usia, suku maupun posisi.
5. Seseorang dapat menciptakan karya seni dan keindahan di komputer
6. Komputer dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
==================
Hacker dan Cracker
==================
Sebenarnya secara lebih spesifik terminologi hacker telah dijelaskan dalam buku Hacker Attack karya Richard Mansfield tahun 2000. Menurut Mansfield, hacker didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Sedangkan cracker adalah sisi gelap dari hacker dan memiliki kertertarikan untuk mencuri informasi, melakukan berbagai macam kerusakan dan sesekali waktu juga melumpuhkan keseluruhan sistem komputer.
Perbedaan terminologi antar hacker dan cracker tersebut kini menjadi bias dan cenderung hilang sama sekali dalam perspektif media massa dan di masyarakat umum. Ada beberapa faktor penyebab hal tersebut:
- Para cracker tidak jarang menyebut diri mereka sebagai hacker
- Manifesto dan kode etik para hacker kerap pula dianggap sebagai manifesto dan kode etik bagi para cracker.
- Media massa menggunakan terminologi hacker secara salah kaprah dan hantam kromo
- Industri film mengangkat kehidupan hacker dari kacamata Hollywood
- Masyarakat melabelisasi kegiatannya menggunakan kata hacker agar lebih memiliki daya jual
Berdasarkan beberapa kondisi tersebut di atas, maka terminologi hacker memiliki pelebaran makna sedemikian rupa, sehingga kesalah-kaprahan kian hari kian menjadi-jadi. Setiap perilaku negatif yang dilakukan di Internet sering kali dikaitkan dengan istilah hacker, baik oleh media massa maupun masyarakat umum. Contohnya adalah pada paragraf pertama dan kedua tulisan ini. Perilaku men-defaced suatu situs nyata-nyata bukanlah modus operandi hacker. Hacker sejatinya tidak memiliki niatan atau tindakan yang sifatnya merusak.
Penggunaan kata hacker untuk sebuah acara party-party di café seperti contoh di atas juga merupakan satu bentuk pengaburan makna hacker yang sebenarnya. Acara HackersNight yang selalu digelar di café-café tersebut hanyalah merupakan ajang kumpul-kumpul pebisnis dotcom untuk bertukar kartu nama, menikmati hiburan dan bercengkerama hingga larut malam. Agak sulit jika ingin memperkirakan bahwa hacker yang sebenarnya akan menghadiri acara tersebut. Karena sejatinya seorang hacker kurang mau jati dirinya terekspos.
Berbeda bila kita berbicara mengenai ajang pertemuan hacker terbesar di dunia, Def Con, yang diadakan setahun sekali setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktifitas hacking. Para hacker dari seluruh dunia tidak segan-segan untuk muncul setahun sekali dalam Def Con tersebut karena disitulah mereka dapat merasakan berada di komunitas hacker yang sesungguhnya, bukan sekedar labelisasi saja.
Walhasil, melihat beberapa kondisi di atas, akhirnya mau tidak mau terjadi kompromi dalam penggunaan istilah hacker. Sebagian orang ada memilih istilah hacker dan cracker, ada yang lebih nyaman menggunakan istilah hacker putih dan hacker hitam dan ada pula yang tetap menggunakan kata hacker untuk semua perilaku kriminalitas di Internet. Karena hacker yang sejati lebih banyak diam, cracker sering menyatakan dirinya sebagai hacker dan masyarakat umum lebih familiar dengan istilah hacker, akhirnya mau tidak mau media massa harus mengikuti selera pasar dengan ikut-ikutan mengeneralisir terminologi hacker.
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Neotek, Vol.II - No. 1, Oktober 2001. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
—————————–
Biar Miskin Asal Sombong
oleh : Donny B.U. *
Saya sebenarnya sempat optimis bahwa komputer dan Internet, bisa menggantikan fungsi beberapa teknologi komunikasi lawas yang sudah kadung dikeloni oleh sekian ratus juta penduduk Indonesia. Toh memang di beberapa kondisi, hal tersebut sudah mulai terasa, walaupun masih malu-malu. Misalnya saja, ketika dulu yang namanya berkirim-kiriman pesan untuk menyatakan turut berbahagia ataupun turut berduka cita kerap disampaikan dalam bentuk tertulis di atas sebuah kertas yang dibungkus oleh amplop berperangko, kini banyak yang mengalihkannya ke jasa layanan pesan singkat (SMS) dengan biaya kurang dari gopek. Murah meriah, cepat tepat! Komunikasi antar benua pun sudah tidak perlu menunggu berhari-hari, cukup sampaikan melalui e-mail, maka detik itupun komunikasi sudah terjalin. Mau yang interaktif? Bisa gunakan fasilitas chatting, asal betah saja memahami maksud lawan bicara dengan cara membaca tulisan di monitor dan menjawabnya dengan cara mengetik.
Mau yang lebih revolusioner? Lengkapi saja perangkat komputer Anda dengan sound card, speaker dan microphone ala kadarnya. Modalnya paling banter di bawah gopekceng. Lalu instal software komunikasi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP), semisal Yahoo! Messenger, maka Anda sudah bisa bercuap-cuap dengan lawan bicara yang berada di mana saja di penjuru dunia. Syaratnya cuma akses Internet dan pulsa telepon lokal! Hebat bukan? Semangat komputerisasi dan Internetisasi ini yang selalu didengung-dengungkan oleh para pandai Internet kepada masyarakat awam. Pokoknya, apapun aktifitas Anda, hasilnya akan lebih murah-meriah cepat-tepat apabila menggunakan komputer dan Internet, alias teknologi informasi (TI)
Lah kok pada saat ajang unjuk diri TI terakbar di Indonesia pada awal April 2004 lalu, tepatnya saat proses penghitungan suara Pemilu 2004, hasilnya kok bertolak belakang dengan apa yang “ditempelkan” di jidat masyarakat tentang TI? Sistem komputerisasi Pemilu yang sedemikian canggihnya, dan tentunya sedemikian mahalnya, ternyata dirasakan melempem oleh masyarakat. Banyak anomali yang timbul, misalnya lambatnya pemrosesan data suara untuk dapat ditampilkan di pusat tabulasi nasional, berubahnya angka menjadi 0 semua atau terjadi lonjakan angka sekian puluh juta, hingga terubahnya nama partai di dalam sistem TI tersebut menjadi nama yang “aneh-tapi-nyata” lantaran sistem berharga ratusan miliar rupiah tersebut sempat disatroni oleh “orang iseng” yang juga menggunakan komputer dan Internet. Pihak KPU boleh mengeluarkan sejuta alasan teknis untuk pembelaan diri, toh masyarakat sudah kadung kecewa. Lagian apa kepentingannya masyarakat umum dengan alasan teknis?
Toh bagi mereka, yang penting hasilnya sesuai tidak dengan yang dijanjikan dan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Masak iya, kecepatan hasil penghitungan suara secara komputer bisa setara dengan yang secara manual. Itu saja kok yang ada di benak masyarakat! Apalagi konon, seperti kerap menjadi bisik-bisik di masyarakat, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Elvis Presley, yaitu “Love Me Tender”, sangat populer di KPU. Mudah-mudahan kecewanya masyarakat lebih kepada manajemen KPU-nya, bukan kepada TI-nya.
Tapi tidak perlu terlalu heran. Nyatanya memang bangsa kita ini masih agak gamang, kagetan dan “gumunan” dengan perkembangan TI yang revolusioner di Indonesia. Memang, ada indikasi bahwa TI kita ini ujung-ujungnya adalah “menurut petunjuk” vendor saja. Bisa jadi mereka memang sebenarnya tidak peduli kita siap atau tidak, butuh atau tidak. Yang penting jualan mereka laku di negara dunia kedua dan ketiga, karena pasar di negara asal mereka sudah jenuh! Kan ada prinsip dasar marketing, yaitu ciptakan kebutuhan, apabila memang barang jualan kita sebenarnya belum menjadi kebutuhan yang mendesak di pasar. Makanya jangan heran, bila ada rekan Anda, atau mungkin Anda sendiri, yang punya ponsel lebih dari 1 buah. Padahal mulut kita hanya satu! Atau mungkin ada yang memiliki ponsel, notebook atau komputer tercanggih, tetapi optimalisasi fungsinya paling banter hanya 10% saja. Pokoknya canggih, pokoknya menjadi trend-setter, pokoknya up-to-date, dan pokoknya mahal!
Jadi, akhirnya memang KPU tidak terlalu salah jika sistem TI yang mereka bangun tersebut kurang dapat berfungsi secara optimal. Lah wong gamang, kagetan dan “gumunan” terhadap TI ini sudah menjadi penyakit bangsa kok! Toh kebetulan saja, KPU ini menjadi bola kristal untuk melihat kondisi yang ada. Jadi, mempertanyakan kebijakan KPU dengan komputerisasinya tersebut sama dengan mempertanyakan diri sendiri di depan cermin. Logikanya, menghujat KPU ya menghujat diri sendiri toh! Kan sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita (dan di negara kita tentunya), bahwa kemampuan yang terbatas kerap kalah set dengan ego yang menggelora. Ibarat pepatah ala “warung kopi”, nafsu besar tenaga kurang, biar miskin asal sombong!
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juni 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
oleh: Donny B.U., M.Si. *
=========
Pengantar
=========
Pernah suatu ketika pada tanggal 10 Agustus 2001 sebuah media massa online memberitakan mengenai hacker yang membobol dan men-deface (mengubah content maupun layout) beberapa situs di Internet dan memasang foto Tommy Soeharto di situs tersebut. Menurut media massa tersebut, aksi hacker tersebut adalah merupakan bantuan untuk menyebarluaskan dan menangkap Tommy Soeharto. Pada halaman yang di-deface tersebut, tertulis juga pesan “Hacked and deface not only a crime. This person is #1 criminal in our country”.
Kemudian belum lama berselang, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2001, beberapa perusahaan dotcom menyelenggarakan sebuah acara bertajuk HackersNight, di sebuah café di bilangan Jakarta Selatan. Acara HackersNight tersebut merupakan acara bulanan yang sudah mencapai putaran ke 12 di Jakarta. Acara party-party ala pebisnis dotcom tersebut juga dilangsungkan di Bandung dan Surabaya, dan sudah tentu dilaksanakan di sebuah café pula. Acara yang dilangsungkan hingga larut malam tersebut banyak menyajikan aneka hiburan, musik yang keras dan setumpuk hadiah dari para sponsor.
Bagi orang awam, kedua informasi tersebut tidaklah menunjukkan kejanggalan apapun. Toh memang akhirnya terminologi hacker bagi orang awam tidak mempunyai banyak arti dan tidak berpengaruh banyak dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi bagi pelaku dan pemain industri teknologi informasi (TI), atau setidaknya bagi pemerhati dan pecinta TI, penggunaan kata hacker untuk dua contoh kasus tersebut di atas bisa menjadi suatu diskusi yang panjang. Ada pertanyaan yang paling mendasar: “Sudah tepatkah penggunaan kata hacker tersebut?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terminologi hacker tersebut lebih jauh.
==================================
Sejarah Singkat Terminologi Hacker
==================================
Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama.
Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos.
1 dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan. Pada tahun yang sama keluar pula sebuah film berjudul War Games yang salah satu perannya dimainkan oleh Matthew Broderick sebagai David Lightman. Film tersebut menceritakan seorang remaja penggemar komputer yang secara tidak sengaja terkoneksi dengan super komputer rahasia yang mengkontrol persenjataan nuklir AS.
Kemudian pada tahun 1995 keluarlah film berjudul Hackers, yang menceritakan pertarungan antara anak muda jago komputer bawah tanah dengan sebuah perusahaan high-tech dalam menerobos sebuah sistem komputer. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana akhirnya anak-anak muda tersebut mampu menembus dan melumpuhkan keamanan sistem komputer perusahaan tersebut. Salah satu pemainnya adalah Angelina Jolie berperan sebagai Kate Libby alias Acid Burn.
Pada tahun yang sama keluar pula film berjudul The Net yang dimainkan oleh Sandra Bullock sebagai Angela Bennet. Film tersebut mengisahkan bagaimana perjuangan seorang pakar komputer wanita yang identitas dan informasi jati dirinya di dunia nyata telah diubah oleh seseorang. Dengan keluarnya dua film tersebut, maka eksistensi terminologi hacker semakin jauh dari yang pertama kali muncul di tahun 1960-an di MIT.
==============================
Manifesto dan Kode Etik Hacker
==============================
Sebenarnya hacker memiliki manifesto dan kode etik yang menjadi patokan bagi hacker di seluruh dunia. Manifesto Hacker dibuat oleh seorang hacker yang menggunakan nickname The Mentor dan pertama kali dimuat pada majalah Phrack (volume 1 / issue 7 / 25 September 1986).
Manifesto Hacker tersebut adalah:
- Ini adalah dunia kami sekarang, dunianya elektron dan switch, keindahan sebuah baud.
- Kami mendayagunakan sebuah sistem yang telah ada tanpa membayar, yang bisa jadi biaya tersebut sangatlah murah jika tidak dijalankan dengan nafsu tamak mencari keuntungan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami menjelajah, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami mengejar pengetahuan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kami hadir tanpa perbedaan warna kulit, kebangsaan, ataupun prasangka keagamaan, dan kalian sebut kami kriminal.
- Kalian membuat bom atom, kalian menggelar peperangan, kalian membunuh, berlaku curang, membohongi kami dan mencoba meyakinkan kami bahwa semua itu demi kebaikan kami, tetap saja kami yang disebut kriminal.
- Ya, aku memang seorang kriminal.
- Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku.
- Kejahatanku adalah karena menilai orang lain dari apa yang mereka katakan dan pikirkan, bukan pada penampilan mereka.
- Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tak kan kalian maafkan.
- Aku memang seorang hacker, dan inilah manifesto saya.
- Kalian bisa saja menghentikanku, tetapi kalian tak mungkin menghentikan kami semua.
- Bagaimanapun juga, kami semua senasib seperjuangan.
Hacker juga memiliki kode etik yang pada mulanya diformulasikan dalam buku karya Steven Levy berjudul Hackers: Heroes of The Computer Revolution, pada tahun 1984.
Kode etik hacker tersebut tertulis:
1. Akses ke sebuah sistem komputer, dan apapun saja dapat mengajarkan mengenai bagaimana dunia bekerja, haruslah tidak terbatas sama sekali
2. Segala informasi haruslah gratis
3. Jangan percaya pada otoritas, promosikanlah desentralisasi
4. Hacker haruslah dinilai dari sudut pandang aktifitas hackingnya, bukan berdasarkan standar organisasi formal atau kriteria yang tidak relevan seperti derajat, usia, suku maupun posisi.
5. Seseorang dapat menciptakan karya seni dan keindahan di komputer
6. Komputer dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
==================
Hacker dan Cracker
==================
Sebenarnya secara lebih spesifik terminologi hacker telah dijelaskan dalam buku Hacker Attack karya Richard Mansfield tahun 2000. Menurut Mansfield, hacker didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan eksplorasi dan penetrasi terhadap sebuah sistem operasi dan kode komputer pengaman lainnya, tetapi tidak melakukan tindakan pengrusakan apapun, tidak mencuri uang atau informasi. Sedangkan cracker adalah sisi gelap dari hacker dan memiliki kertertarikan untuk mencuri informasi, melakukan berbagai macam kerusakan dan sesekali waktu juga melumpuhkan keseluruhan sistem komputer.
Perbedaan terminologi antar hacker dan cracker tersebut kini menjadi bias dan cenderung hilang sama sekali dalam perspektif media massa dan di masyarakat umum. Ada beberapa faktor penyebab hal tersebut:
- Para cracker tidak jarang menyebut diri mereka sebagai hacker
- Manifesto dan kode etik para hacker kerap pula dianggap sebagai manifesto dan kode etik bagi para cracker.
- Media massa menggunakan terminologi hacker secara salah kaprah dan hantam kromo
- Industri film mengangkat kehidupan hacker dari kacamata Hollywood
- Masyarakat melabelisasi kegiatannya menggunakan kata hacker agar lebih memiliki daya jual
Berdasarkan beberapa kondisi tersebut di atas, maka terminologi hacker memiliki pelebaran makna sedemikian rupa, sehingga kesalah-kaprahan kian hari kian menjadi-jadi. Setiap perilaku negatif yang dilakukan di Internet sering kali dikaitkan dengan istilah hacker, baik oleh media massa maupun masyarakat umum. Contohnya adalah pada paragraf pertama dan kedua tulisan ini. Perilaku men-defaced suatu situs nyata-nyata bukanlah modus operandi hacker. Hacker sejatinya tidak memiliki niatan atau tindakan yang sifatnya merusak.
Penggunaan kata hacker untuk sebuah acara party-party di café seperti contoh di atas juga merupakan satu bentuk pengaburan makna hacker yang sebenarnya. Acara HackersNight yang selalu digelar di café-café tersebut hanyalah merupakan ajang kumpul-kumpul pebisnis dotcom untuk bertukar kartu nama, menikmati hiburan dan bercengkerama hingga larut malam. Agak sulit jika ingin memperkirakan bahwa hacker yang sebenarnya akan menghadiri acara tersebut. Karena sejatinya seorang hacker kurang mau jati dirinya terekspos.
Berbeda bila kita berbicara mengenai ajang pertemuan hacker terbesar di dunia, Def Con, yang diadakan setahun sekali setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktifitas hacking. Para hacker dari seluruh dunia tidak segan-segan untuk muncul setahun sekali dalam Def Con tersebut karena disitulah mereka dapat merasakan berada di komunitas hacker yang sesungguhnya, bukan sekedar labelisasi saja.
Walhasil, melihat beberapa kondisi di atas, akhirnya mau tidak mau terjadi kompromi dalam penggunaan istilah hacker. Sebagian orang ada memilih istilah hacker dan cracker, ada yang lebih nyaman menggunakan istilah hacker putih dan hacker hitam dan ada pula yang tetap menggunakan kata hacker untuk semua perilaku kriminalitas di Internet. Karena hacker yang sejati lebih banyak diam, cracker sering menyatakan dirinya sebagai hacker dan masyarakat umum lebih familiar dengan istilah hacker, akhirnya mau tidak mau media massa harus mengikuti selera pasar dengan ikut-ikutan mengeneralisir terminologi hacker.
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Neotek, Vol.II - No. 1, Oktober 2001. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
—————————–
Biar Miskin Asal Sombong
oleh : Donny B.U. *
Saya sebenarnya sempat optimis bahwa komputer dan Internet, bisa menggantikan fungsi beberapa teknologi komunikasi lawas yang sudah kadung dikeloni oleh sekian ratus juta penduduk Indonesia. Toh memang di beberapa kondisi, hal tersebut sudah mulai terasa, walaupun masih malu-malu. Misalnya saja, ketika dulu yang namanya berkirim-kiriman pesan untuk menyatakan turut berbahagia ataupun turut berduka cita kerap disampaikan dalam bentuk tertulis di atas sebuah kertas yang dibungkus oleh amplop berperangko, kini banyak yang mengalihkannya ke jasa layanan pesan singkat (SMS) dengan biaya kurang dari gopek. Murah meriah, cepat tepat! Komunikasi antar benua pun sudah tidak perlu menunggu berhari-hari, cukup sampaikan melalui e-mail, maka detik itupun komunikasi sudah terjalin. Mau yang interaktif? Bisa gunakan fasilitas chatting, asal betah saja memahami maksud lawan bicara dengan cara membaca tulisan di monitor dan menjawabnya dengan cara mengetik.
Mau yang lebih revolusioner? Lengkapi saja perangkat komputer Anda dengan sound card, speaker dan microphone ala kadarnya. Modalnya paling banter di bawah gopekceng. Lalu instal software komunikasi berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP), semisal Yahoo! Messenger, maka Anda sudah bisa bercuap-cuap dengan lawan bicara yang berada di mana saja di penjuru dunia. Syaratnya cuma akses Internet dan pulsa telepon lokal! Hebat bukan? Semangat komputerisasi dan Internetisasi ini yang selalu didengung-dengungkan oleh para pandai Internet kepada masyarakat awam. Pokoknya, apapun aktifitas Anda, hasilnya akan lebih murah-meriah cepat-tepat apabila menggunakan komputer dan Internet, alias teknologi informasi (TI)
Lah kok pada saat ajang unjuk diri TI terakbar di Indonesia pada awal April 2004 lalu, tepatnya saat proses penghitungan suara Pemilu 2004, hasilnya kok bertolak belakang dengan apa yang “ditempelkan” di jidat masyarakat tentang TI? Sistem komputerisasi Pemilu yang sedemikian canggihnya, dan tentunya sedemikian mahalnya, ternyata dirasakan melempem oleh masyarakat. Banyak anomali yang timbul, misalnya lambatnya pemrosesan data suara untuk dapat ditampilkan di pusat tabulasi nasional, berubahnya angka menjadi 0 semua atau terjadi lonjakan angka sekian puluh juta, hingga terubahnya nama partai di dalam sistem TI tersebut menjadi nama yang “aneh-tapi-nyata” lantaran sistem berharga ratusan miliar rupiah tersebut sempat disatroni oleh “orang iseng” yang juga menggunakan komputer dan Internet. Pihak KPU boleh mengeluarkan sejuta alasan teknis untuk pembelaan diri, toh masyarakat sudah kadung kecewa. Lagian apa kepentingannya masyarakat umum dengan alasan teknis?
Toh bagi mereka, yang penting hasilnya sesuai tidak dengan yang dijanjikan dan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Masak iya, kecepatan hasil penghitungan suara secara komputer bisa setara dengan yang secara manual. Itu saja kok yang ada di benak masyarakat! Apalagi konon, seperti kerap menjadi bisik-bisik di masyarakat, sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Elvis Presley, yaitu “Love Me Tender”, sangat populer di KPU. Mudah-mudahan kecewanya masyarakat lebih kepada manajemen KPU-nya, bukan kepada TI-nya.
Tapi tidak perlu terlalu heran. Nyatanya memang bangsa kita ini masih agak gamang, kagetan dan “gumunan” dengan perkembangan TI yang revolusioner di Indonesia. Memang, ada indikasi bahwa TI kita ini ujung-ujungnya adalah “menurut petunjuk” vendor saja. Bisa jadi mereka memang sebenarnya tidak peduli kita siap atau tidak, butuh atau tidak. Yang penting jualan mereka laku di negara dunia kedua dan ketiga, karena pasar di negara asal mereka sudah jenuh! Kan ada prinsip dasar marketing, yaitu ciptakan kebutuhan, apabila memang barang jualan kita sebenarnya belum menjadi kebutuhan yang mendesak di pasar. Makanya jangan heran, bila ada rekan Anda, atau mungkin Anda sendiri, yang punya ponsel lebih dari 1 buah. Padahal mulut kita hanya satu! Atau mungkin ada yang memiliki ponsel, notebook atau komputer tercanggih, tetapi optimalisasi fungsinya paling banter hanya 10% saja. Pokoknya canggih, pokoknya menjadi trend-setter, pokoknya up-to-date, dan pokoknya mahal!
Jadi, akhirnya memang KPU tidak terlalu salah jika sistem TI yang mereka bangun tersebut kurang dapat berfungsi secara optimal. Lah wong gamang, kagetan dan “gumunan” terhadap TI ini sudah menjadi penyakit bangsa kok! Toh kebetulan saja, KPU ini menjadi bola kristal untuk melihat kondisi yang ada. Jadi, mempertanyakan kebijakan KPU dengan komputerisasinya tersebut sama dengan mempertanyakan diri sendiri di depan cermin. Logikanya, menghujat KPU ya menghujat diri sendiri toh! Kan sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita (dan di negara kita tentunya), bahwa kemampuan yang terbatas kerap kalah set dengan ego yang menggelora. Ibarat pepatah ala “warung kopi”, nafsu besar tenaga kurang, biar miskin asal sombong!
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juni 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
Jun 15, 2013
Cara menggunakan ponsel android Anda untuk mengontrol komputer dari jarak jauh
Apakah Anda lelah memberikan on-site dukungan teknis untuk teman-teman dan keluarga Anda? Memberikan dukungan jarak jauh adalah cara mudah untuk membantu mereka tetap menjaga kewarasan Anda. Jika Anda tidak memiliki komputer di dekatnya, tetapi memiliki ponsel Android, Anda masih bisa membantu.
Apr 18, 2013
Cara Tahu akses jarak jauh pada Komputer saya, Ketika saya Away?
hari ini ada begitu banyak perangkat lunak yang tersedia di pasar yang dapat kita gunakan untuk mengakses komputer remote dari mana saja di dunia. Tetapi banyak orang menggunakan semacam software untuk kegiatan ilegal seperti mencuri data atau informasi seseorang.
Jan 26, 2017
Departemen Kepolisian Hill Cockrell kehilangan bukti video dan cache Peretasan
Departemen Kepolisian Hill Cockrell kehilangan bukti video dan cache dokumen digital setelah hacker menyerang sistem komputer departemen bulan lalu.
May 3, 2015
Ponsel dan Laptop rentan terhadap hacker bahkan ketika tidak terhubung ke Internet
Para peneliti dari Georgia Institute of Technology mengatakan bahwa hacker mungkin dapat menyelinap ke laptop atau smartphone hanya dengan menganalisis sinyal elektronik berdaya rendah memancarkan perangkat Anda
Nov 21, 2014
Detekt
Detekt adalah perangkat gratis yang memindai komputer Windows Anda untuk jejak spyware surveilans dikenal digunakan untuk menargetkan dan memantau pembela hak asasi manusia dan jurnalis di seluruh dunia.
Mar 23, 2015
Hacking komputer Udara gapped menggunakan panas yang dihasilkan oleh mereka
Peneliti mengembangkan teknik untuk mencuri data dari komputer yang tidak terhubung ke Internet menggunakan panas yang dihasilkan oleh mereka.
Apr 12, 2015
Server yg memiliki informasi tes standar diretas oleh seorang pelajar 14 tahun
Domanik green seorang pelajar 14 tahun belajar di Paul R. Smith Sekolah Menengah Florida berhasil memotong jaringan keamanan komputer sekolah hanya menggunakan keterampilan komputer dan memperoleh akses ke server yang berisi data FCAT (Florida Uji Komprehensif Assessment).
May 27, 2013
Ilmuwan Israel mengembangkan komputer biologis canggih
Para peneliti di Technion-Israel Institute of Technology di Haifa telah menciptakan komputer biologis canggih hanya menggunakan molekul bio seperti DNA dan enzim.
Apr 10, 2015
Remaja ditangkap atas tuduhan kejahatan untuk hacking ke jaringan komputer Sekolahnya
Seorang siswa sekolah menengah 14 tahun di Holiday, Florida, ditangkap minggu ini dan didakwa dengan "pelanggaran terhadap sistem komputer dan akses yang tidak sah," yang merupakan tindak pidana, Tampa Bay Times melaporkan pekan ini. Siswa sekolah menengah menghadiri Paul Smith Middle School di Holiday.
Apr 25, 2013
Man Dihukum Hacking Meskipun Tidak Hacking
Memuncak percobaan dua minggu di mana tidak ada hacker terjadi dalam pengertian tradisional, seorang pria California dihukum Rabu, hacker undang internet pada sensasi Aaron Swartz yang dituduh sebelum ia bunuh diri pada bulan Januari.
May 6, 2009
E-Learning
Sekilas perlu kita pahami ulang apa e-Learning itu sebenarnya. E-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :
Pembelajaran jarak jauh.
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.
Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
Pembelajaran dengan perangkat komputer
E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
Pembelajaran formal vs. informal
E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-Learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:
Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh. E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :
Pembelajaran jarak jauh.
E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.
Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
Pembelajaran dengan perangkat komputer
E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang tergantung pada kondisi dari pengajar.
Pembelajaran formal vs. informal
E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-Learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang masing-masing, yaitu:
Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang diperoleh. E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.
Jun 2, 2013
Dua Trik Sederhana Membuat Windows 8 Blazing Cepat
Meskipun Windows 8 dirancang untuk menjadi lebih cepat dari pendahulunya dari get-pergi, kita telah mendengar bahwa banyak orang yang benar-benar mengalami masalah kinerja dan bahwa OS sebenarnya sedikit lebih lambat.
Jun 15, 2013
30 Cara Sederhana Untuk Membuat Cepat Pc/komputer Anda bagai kilat
Berikut ini adalah lebih dari 80 cara yang dapat meningkatkan kinerja PC Anda sekarang dan membuat PC bekerja lebih cepat seperti baru.
Apr 10, 2013
Korea Selatan menyalahkan Utara bagi serangan cyber bank dan TV
Korea Selatan menuduh mata-mata dari Korea Utara mendalangi serangkaian profil tinggi serangan cyber bulan lalu. Puluhan ribu komputer yang dibuat untuk kerusakan, mengganggu bekerja di bank dan stasiun televisi di Selatan.
Nov 2, 2014
Cari tahu apakah ada yang membuka komputer Anda tanpa izin Anda
Bagaimana untuk mengetahui siapa login ke komputer saya dan kapan?
Apr 14, 2015
Polisi AS membayar dgn Bitcoin untuk uang pemerasan mendekripsi file yg disandera oleh hacker
Departemen polisi setempat dan kantor Sheriff menjadi korban virus komputer yang mengharuskan mereka untuk membayar $ 318 pemerasan uang kepada hacker untuk mendekripsi file.
Apr 17, 2015
Toolbar Ask . com Bisa Membajak Komputer Anda Melalui Update Java
toolbar Ask.com bukanlah alat yang berguna - itu Kutukan karena tidak pernah hilang. Rupanya, Ask.com toolbar membajak komputer Anda sepenuhnya. Biasanya skulks ke dalam sistem komputer karena tertolong beberapa perangkat lunak yang diperlukan, biasanya update Java. - Kemudian menjadi hampir tidak mungkin untuk menghapus toolbar namun; kami memiliki solusi untuk Anda.
Subscribe to:Posts (Atom)


